Give Away – Novel Remaja “Swarna Alor”

Ga swarna alor

Hai, para pecinta novel!

Untuk pertama kalinya saya mengadakan Give Away di blog saya. Suatu kehormatan dan kebahagiaan tersendiri saya bisa mengadakan Give Away novel yang Indonesia banget berjudul “Swarna Alor” karya Dyah Prameswarie, penerbit Tiga Serangkai.

Novel ini sangat menggugah benak saya karena tersaji dengan hal-hal indah dan unik dari bagian Timur Indonesia. Seperti tag line yang tertera di sampul depannya “Impian di Langit Timur”, novel ini tak hanya memanjakan benak pembaca dengan hal-hal tradisional di Swarna Alor, tetapi tujuan dan impian yang ingin Mbarep dan Lilo capai.

Mereka tiba di kampung Hula, tak hanya untuk bertualang tetapi mengalahkan rasa takut dan konflik batin mereka sendiri. Mbarep yang menghadapi tantangan bawah laut dan kegalauan di hatinya. Lilo yang berusaha keras mewujudkan ide-idenya serta dilema yang dia hadapi di kampung Hula.

Apakah mereka sanggup menghadapi berbagai hal tak terduga di sana? Tentu dengan usaha keras, semua halangan dan rintangan di depan kita akan bisa dihadapi seiring keinginan kuat.

Nah, kalian mungkin pernah mengalami hal seperti. Ingin mencapai sesuatu namun di masa lalu (remaja) ada kejadian menjadi pemacu semangat untuk berubah di masa sekarang hingga akhirnya segala kekhawatiran dapat terkalahkan oleh kegigihan kita.

Untuk mendapatkan novel “Swarna Alor” plus gantungan kunci lucu, coba kalian tulis di kolom komentar, ‘kejadian apa yang pernah kalian lakukan saat remaja hingga menjadi titik balik kalian menjadi seperti sekarang ini?’

Persyaratan yang wajib dipenuhi :

  1. Tulis  jawabannya di komentar  dengan format : Nama, Akun twitter, Link Share  Url di Twitter, Jawaban.
  2. Follow akun twitter  @gudienz, @BetaKun dan @Tiga_Serangkai, dan follow akun IG dyahprameswarie.
  3. Share  link give away novel Swarna Alor ini dengan  hashtag #SwarnaAlor di Twitter, dan screenshoot potongan kuis ini di IG lalu tag ke dyahprameswarie.  Akan dipilih 2 jawaban terbaik  untuk mendapatkan   novel “Swarna Alor” plus gantungan  kunci untuk 2 jawaban paling oke.

Keputusan akhir pemenang kuis tidak dapat diganggu gugat. Tidak menerima inbox apapun mengenai kuis ini ya? Kuis ini berlangsung satu minggu, 7 September – 13 September 2015. Ditunggu jawabannya!😉

11 thoughts on “Give Away – Novel Remaja “Swarna Alor”

  1. Nama: Dian Farida Ismyama
    Akun twitter: @dian_ismy
    Link share di twitter:

    Jawaban:
    Hmm, titik balik saat remaja, membuat saya harus mengingat kejadian 11 tahun yg lalu (terus berasa tua deh, hehe). Tepat 2minggu setelah ulangtahun saya yg ke 18, 1hari setelah pendaftaran UM UGM, saya mengalami kecelakaan ,mengantuk saat mengendarai motor, lalu menabrak terano:(. Apa yg terjadi kmudian? Patah tulang di bagian siku kanan, patah mental menghadapi UAS, EBTA praktek dan UM universitas, ditambah patah hati di saat yang bersamaan. Jangan ditanya bagaimana rasanya menghadapi UM dg tangan kanan habis operasi dan dibalut dari bahu hingga telapak, membulat2kan jawaban dg tangan kiri kemudian disempurnakan oleh adik saya, ujian di ruang khusus. Jangan tanya bagaimana beratnya saya kembali ke sekolah untuk EBTA praktek susulan dalam keadaan pelipis diperban, wajah lebam, kaki pincang karena luka terkena knalpot yang dalam, dan tentu saja siku yang dibalut lalu disangga dengan kain ke bahu. Kalau tentang patah hati, wah nggak keitung berapa kali menangis menahan sesak di dada sekaligus nyeri di tangan:((.

    Tapi di balik semua itu, ternyta menjadi titik balik saya mempertanyakan, untuk apa kita hidup di dunia ini? Apa tujuan hidup saya? Saya yang sudah diberi kesempatan kedua untuk hidup (bisa saja saat itu saya tidur di motor lalu bangun sudah di alam lain), mulai muhasabah diri, hingga akhirnya menyadari kesalahan2 saya, hingga akhirnya menemukan jawaban bahwa kita hidup untuk menyembah-Nya, untuk mempersiapkan bekal di akhirat kelak. Dari kejadian itu, terlihat mana orang2 yg benar2 tulus mengkhawatirkanmu, terutama keluarga, teman2, dan mana yang kurang peduli terhadapmu.

    Titik balik terjadi ketika saya berpasrah pada hasil UM, UAS pada Allah, percaya bahwa usaha saya yang

  2. penuh keterbatasan merupakan proses yang harus dilalui dan hasilnya adalah yang terbaik menurut ketentuan-Nya. Dari kejadian tersebut saya belajar, sebesar apapun keinginan kita terhadap sesuatu, pada akhirnya semua yang terjadi bukan kebetulan, Allah bisa saja membuat semuanya berbeda 180 derajat dalam 1 detik, entah untuk menegur kita, untuk menguji, atau bahkan agar kita naik kelas di mata-Nya.

    Kejadian besar di masa remaja saya, mau tidak mau membuat saya menjadi lebih menyadari bahwa sesulit apapun keadaan kita, pasti bisa kita lalui, bila kita percaya pada-Nya. Dan gantungkanlah harapan bukan pada sesama makhluk, tapi hanya pada-Nya, agar tidak kecewa:).

  3. Nama : Wulida
    Twitter : @jm_nim
    link share : https://mobile.twitter.com/Jm_nim/status/641123464481402880?p=v

    kejadian titik balik saya adalah saat beberapa bulan yang lalu. Saat pengumuman UN, saya yakin nilai saya bagus karena saya bukan gologan orang yang tidak begitu pandai, saya pernah mewakili sekolah untuk osn geografi dan alhamdulillah hasilnya memuaskan. Tapi apa yang terjadi dengan nilai UN saya? saya tidak lulus dan pelajaran yang jeblok nilainya adalah geografi. Saya benar-benar terpukul. ingin sekali melakukan hal-hal negatif. tapi saya masih ingat orang tua. Belum lagi kesialan saya di tolak SNMPTN dan SBMPTN dan SIMAK UI. Saya putus asa, saya sudah tidak ada jalannn meraih PTN. Orang tua saya sudah tidak punya uang untuk mendaftar UM universitas lain. Akhirnya saya tahu ini cobaan dari allah karena saya terlalu menyombongggkan kecerdasan saya dan tidak mau belajar. Mulai dari sini saya akan memperbaiki diri mulai dari 0. memperbaiki nilai UN dan tahun depan akan menjadi mahasiswa UI

  4. nama : pramestya
    twitter : @p_ambangsari
    twitter.com/p_ambangsari/status/641874642488029184

    kejadian apa yang pernah kalian lakukan saat remaja hingga menjadi titik balik kalian menjadi seperti sekarang ini?

    saya masih remaja kak😀

    Dulu saya sedang dalam masa suka-sukanya terhadap berorganisasi. Jadilah saya ikut dua organisasi besar sekaligus. Dari organisasi itu saya digembleng untuk jadi disiplin, tegas, kuat, cerdas, cepat, aktif, optimistis, dan pd.

    saya ga lama ikut organisasi tonti, karena menurut saya (saat itu) nggak asik, kegiatannya cuma kayak gitu aja, nggak kayak organisasi pramuka yang materi/kegiatannya banyak. Teruslah saya keluar dari A, tapi saya tetap mendapatkan hal penting yaitu Disiplin, tegas, dan mental kuat.

    Saya menekuni pramuka Saat itu saya semangat sekali. Sampai-sampai saya yakin kalau bakal jadi yang terhebat kedua setelah teman saya yang populer karena saya mengaplikasikan ilmu saya dari tonti. Namun saya salah, setiap diadakan seleksi untuk lomba, saya gagal. Saya kalah dalam menghafal materi yang berbentuk ilmu pengetahuan umum, kurang lancar dalam mendeteksi perintah morse, dan selalu standar dalam semaphore.

    Tapi saya yakin saya memiliki kelebihan pada ide. Ya, saya sering memberikan ide, masukan, menjadi orang yang lebih sering berdiskusi untuk memecahkan masalah daripada anak lain. Dan, setiap kali disuruh membuat yelyel beregu saya selalu menyalurkan ide saya. Terserah diterima atau tidak, tapi saat itu ide saya sering diterima. Kalaupun tidak, sering juga saya yang menutupi kekurangan dengan membolak-balikan lagunya.

    Ternyata ide saja tetap tidak cukup. Saya kalah kembali.

    Klimaksnya saat ada acara senam menggunakan semaphore. Berlatih berhari-hari, sampai sore, keringetan terus. Tapi apa yang terjadi saat H-1? Saya jatuh sakit, tidak masuk dua hari, akibatnya hari kedua UTS yang mengujikan mtk, saya hampir muntah di toilet. Nilai saya hancur.

    Saya muak. Saya mengajukan surat berhenti pramuka setelah UTS selesai tapi tidak di acc. Terserah, saya tetap berhenti.

    Apa yang saya dapatkan? Disiplin, tegas, kuat, cerdas, cepat, aktif, optimistis, dan pd. Saya dapatkan itu walau belum maksimal.

    Saya yang empat tahun lalu kebalikan dari itu semua menjadi lebih baik sekarang. Tapi kekurangannya fatal. Karena terlalu tegas, jadi keliatan galak atau judes. Saya jadi malas berorganisasi lagi, karena sering kecewa akibat tidak terpilih lomba apa-apa. Sering sarkas pada orang yang populer tapi merendahkan diri. Sering memberontak karena harapan saya dibunuh oleh orang lain. Saya jadi negatif thinking pada organisasi sejenis itu.

  5. Nama: Septy Anggita
    Acc twitter : @sseptyanggita
    Url share twitter : https://twitter.com/sseptyanggita/status/641923279725268993

    kejadian yang membuat titik balik saya sekarng ini ? hmm… jadi gini, pernah suatu ketika saat SMP saya menyianyiakan waktu dengan bermain main dgn teman, melawan orangtua, menghabiskan uang org tua dengan jajan jajan dan jalan jalan serta MALAS BELAJAR. memang rank saya tetap naik turun di 10 besar. tapi pernah dikelas 9 semester 1 saya anjlok seanjlok anjloknya. kenapa? rank 10 besar tak ditangan nilai turunnnn semua. tetapi anehnya didalam diri saya ada ingin melakukan sebuah perubahan agar bisa masuk SMA yg terfavorit didaerah saya. bersusah payah saya berusaha untuk berubah, tetap saja tak bisa. banyak faktor yg mendorong saya untuk tidak melakukan itu. alhasil semua daftar SMA favorit yg saya inginkan TIDAK LULUS tes akademik ataupun psikotesnya. akhirnya Tuhan menunjukkan saya jalan ada SMA bagus yg menerima saya. dan saya sudah janji akan berubah menjadi anak kebanggaan org tua saya dan tak menyianyiakan waktu yang ada hanyak untuk belajar belajar belajar dan berdoa agar diterima di PTN terbagus nantinya yg membawa saya menjadi seseorang yang sukses dan membanggakan kedua orangtua saya dan orang-orang disekitar saya AMIN.. seandainya masa waktu SMP bisa terulang, saya akan memperbaiki semuanya dari awal lagi dan masuk di SMA terfavorit itu. tapi yasudahlah. saya akan berubah dan berusaha. dan tak menyianyiakan waktu yang ada lagi sampai saat ini. ^^

  6. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Lihat Tweet @RiniCipta: https://twitter.com/RiniCipta/status/642621763881336833

    Kejadian saat remaja yang menjadi titik balik sehingga aku menjadi seperti sekarang ini terjadi di tahun terakhirku di SMP. Sebelum ujian nasional kami gencar diberikan mata pelajaran tambahan agar nantinya kami bisa lulus UN dg nilai memuaskan sehingga mendapat sekolah menengah yang bagus.
    Sekolahku bisa dikatakan tidak terlalu populer,letaknya di desa. Kebanyakan teman2ku memilih tidak melanjutkan sekolah atau masuk di SMK agar selepasnya dapat cari kerja. Tapi aku didukung juga oleh kedua orang tuaku, berniat melanjutkan sekolah di kabupaten, SMA yang bagus dan memiliki banyak prestasi. Aku mencoba peruntungan melalui tes wawancara, berbekalkan beberapa piagam yang ku bawa akhirnya aku berhasil diterima. Padahal memang sempat pesimis karena teman yang lain memiliki prestasi yg lebih banyak dan lebih hebat dariku. Aku satu-satunya dari SMPku yang mendaftar kesana dan diterima.
    Berkat menjadi siswa di SMA inilah, aku juga diterima melalui jalur undangan di perguruan tinggi, di jurusan yang memang aku inginkan. Walaupun aku bisa dikatakan tidak terlalu ‘menonjol’ di SMA. Tapi aku membuktikan, aku juga bisa meraih impianku asalkan aku yakin dapat meraihnya.
    Aku sangat bersyukur atas segala anugrah dan keberuntungan yang Tuhan berikan. Kalau saja aku memilih untuk berhenti atau segera mencari kerja, mungkin jalan hidupku akan berbeda. Jika aku tidak mengambil langkah berani untuk mendaftar di SMA itu yang merupakan langkah berbeda dengan teman2ku kebanyakan, kemungkinan aku juga tidak ada di posisi sekarang ini. Keputusanku untuk menjadi ‘berbeda ‘ semoga membuahkan hasil yang membahagiakan dan membanggakan.

  7. Nama: Thia Amelia
    Akun twitter: @Thia1498
    Link Share: https://twitter.com/Thia1498/status/643005188958060544

    kejadian apa yang pernah kalian lakukan saat remaja hingga menjadi titik balik kalian menjadi seperti sekarang ini?

    Banyak, banyak banget. Masa-masa saya bandel itu adalah saat SMP. Melawan guru, tidak mematuhi peraturan, sering main warnet berjam-jam, jarang ada dirumah, berbohong pada orangtua. Dulu saya sering melakukan itu. Masa-masa suram mungkin yang orang bilang, tapi menurut saya itu adalah masa terbaik, karena tanpa masa itu saya tidak akan pernah seperti ini, walaupun jika mengingat lagi mungkin hanya akan ada penyesalan yang memenuhi hati. Kejadian yang menjadi titik balik dari kehidupan saya yang bandel dulu itu adalah saat MOS SMA, 2 tahun yang lalu. Di MOS itu, saya banyak mengalami kesulitan dan yang membantu saya justru adalah orang-orang yang sudah saya kecewakan secara tidak langsung. Bagaimana sulitnya say amencari makanan yang langka dan ibu saya yang mau mengantar saya membelinya. Bagaimana saya kesulitan mencari barang yang sulit dan ayah saya yang membantu membuatkan. Bagaimana capeknya saya menulis essai dan adik-adik saya yang membantu. Semua kebohongan saya dan ketiadaan saya dikeluarga ini dulu kembali terngiang saat mereka membantu saya. Ketika dibonceng ibu saya untuk membeli barang langka itu saya selalu menggigit bibir untuk menahan airmata penyesalan. Ketika saya mendengar suara dari setiap gerakan ayah saya yang membuat barang langka saya selalu melamun membayangkan kesalan saya dulu. Dan ketika melihat adik saya menulis saya selalu memandang mereka dan mengingat bagaimana saya dulu sering memarahi mereka karena hal sepele. Semua hal sederhana itu justru yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Kesulitan yang saya hadapi di MOS menjadi lebh mudah dengan bantuan orang-orang yang saya sayangi sekaligus menjadi orang yang saya kecewakan secara tidak langsung. Dan di SMA ini, saya sudah bertekad untuk memulai kembali semua nya dari nol. Saya tidak akan pernah mengecewakan mereka lagi dan akan selalu membahagiakan mereka, itu janji yang ga akan pernah saya ingkari. Insyaallah saya sudah penuhi semua sedikit-demi sedikit. Mendapat peringkat dikelas dan selalu rajin belajar adalah hal yang saya lakukan untuk menebus semua kesalahan saya. Dan, saya ga akan pernah mengecewakan mereka lagi 

  8. Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Link Share : https://twitter.com/ratnaShinju2chi/status/643075163458699265

    ‘kejadian apa yang pernah kalian lakukan saat remaja hingga menjadi titik balik kalian menjadi seperti sekarang ini?’

    Jawab :
    Kejadian ini terjadi setelah lulus Madrasah Aliah. Titik balik yang saya alami dulu adalah ketika saya harus dihadapkan pada kegagalan. Padahal segala daya dan upaya sudah saya lakukan. Belajar dengan sungguh-sungguh, menghapal tajwid dan gharib. Mempelajatri makharijul huruf dengan sebaik-baiknya. Bahkan karena sikap itu saya yang menjadi murid lulus pertama tahap awal pelajarn, namun saat ujian akhirnya saya harus menelan kegagalan. Malu pada guru-guru dan sedih sudah pasti kecewa dan ingin marah.

    Tapi akankan kemarahan akan membuat saya nanti bisa lulus? Tidak, itu sangat tidak mungkin. Yah, mungkin inilah yang namanya takdir Allah. Saya pun mencoba sabar dan ikhlas. Allah selalu punya rencana untuk hamba-Nya. Saya yakin itu. Buktinya setelah kejadian itu. Kejadian saya gagal dari ujian itu tapi pintu gerbang lain ternyata telah menyambut untuk kujalani. Ah, betapa saya sangat bersyukur. Ternyata manusia memang hanya bisa berusaha masalah dikabulkan atau tidak itu urusan Allah. Mungkin bukan sekarang doa diijabahi tapi di lain waktu. Mungkin kadang keputusannya tidak saya sukai, tapi lambat laun saya menyadari yang Allah berikah memang yang terbaik dari segala yang terbaik. Dari kejadian itu saya belajar untuk selalu bersyukur ketika mendapat kesusahan, serta senantiasa sabar serta ikhlas meski saya tahu itu kadang susah. Tak ketinggalan selalu berpikir positif pada Allah.

  9. Nama : Ina Inong
    @inongina

    Kejadian masa remaja? Oh My God, masa remaja saya jaman kapan, sih?😀

    Papih (pake h karena lidah sunda yang nyebut) saya semacam otoriter. Salah satu doktrinnya adalah tak satu pun dari putri-putrinya boleh masuk ke jurusan IPS. Papih beranggapan kalau orang-orang sukses itu berasal dari kasta eksakta. Kolot banget, walau tak sepenuhnya salah. Maka dengan demikian, pupuslah sudah impian masuk kelas IPS (yang pada umumnya seru-seru) dan masuk Fakultasi Sastra di kemudian hari. Termasuk cita-cita menjadi mahasiswi populer di Unpad (hahaha yakin banget…).

    Selain itu Papih juga overprotectetive. Pergaulan saya dibatasi. Saya pun merasa dikekang. Kalau kebetulan Papih sedang tugas ke luar kota, oh betapa senangnya… saya seperti kuda lepas kandang. Sikap Papih juga berdampak pada cowok-cowok yang naksir. Mereka nggak berani datang dua kali begitu melihat wajah galak Papih. *euh*

    Saya membangkang, tidak mau ambil kuliah lain setelah saya tidak lulus tes PTN, dengan jurusan pilihan Papih. Sebelumnya Papih sudah antisipasi dengan mengancam tidak akan membiayai kuliah saya, kalau saya nekat mengganti pilihan di formulie pendaftaran (he know me so well).

    Oke, akhirnya saya menghukum Papih dengan mengambil kuliah singkat tanpa gelar, bidang komputer. Tujuannya supaya saya bisa cepat lulus, kerja, dan bye bye rumah. Seperti kena tulah, semua rencana saya dimuluskan oleh Yang Maha Kuasa.

    Bertahun-tahun saya kerja kantoran dengan perasaan hambar. Sampai akhirnya saya menemukan jalan kembali ke hobi lama, yaitu menulis. Mungkin memang hanya soal waktu saja. Menunggu saat yang tepat dari Yang Maha.

    Saya sering menyesali, sih, setiap keputusan yang saya ambil di masa lalu. Coba dulu begini atau begitu. Tapi, saya juga sadar, penyesalan apa lah guna. Sekarang saya mengambil sisi positif dari masa lalu saya yang kurang cerah itu. Saya lebih lunak pada pilihan anak-anak, walau tetap diberikan pengarahan-pengarahan juga dong, konsekuensinya seperti apa, alternatifnya bagaimana.

    Dalam pergaulan pun saya cenderung memberi sedikit kelonggaran pada anak-anak. Mereka bebas berteman dan bermain, asal masih dalam koridor kewajaran dan bertanggungjawab. Menurut saya sih ini lebih sehat daripada “ngulibek” di dunia maya terus-terusan.

    Kemudian dalam masalah “sastra-menyastra” ini, saya yang pembosan merasa bersyukur bisa belajar secara otodidak seperti sekarang. Bisa jadi kalau saya “jadi” masuk fakultas sastra saya akan merasa “bukan gue banget”, karena dijejali banyak teori. Dan akhirnya bye bye lagi.

    Baiklah, kuliah tentang kejadian di masa remaja dan dampaknya sehingga menjadi titik balik di kehidupan mendatang, saya cukupkan sekian :D:D

    Thanks Beta.

  10. Nama: Didi Syaputra
    Twitter: @DiddySyaputra
    Link: https://mobile.twitter.com/DiddySyaputra/status/641902125212000256?p=v

    Kejadian di masa lalu yang menjadi titik balik kehidupan saya hingga seperti sekarang adalah “KEGAGALAN.” Saya gagal meraih juara kelas di sekolah yang sebelumnya selalu mudah saya raih. Mungkin memang terlihat sepele. Tapi bagi saya pribadi, merupakan pukulan telak sekaligus pembelajaran luar biasa.

    Sebelum lengser dari juara kelas. Jujur saja, saya sangat-sangat sombong. Ya mungkin efek dari juara kelas.

    Saya selalu merasa paling pintar. Akibatnya, saya sering malas-malasan. Belajar pun sekedarnya saja. Dan parahnya, saya sering meremehkan orang lain, tinggi hati, congkak. Karenanya, di ujian saya asal-asalan.

    Setelah pembagian rapor dengan nilai yang berubah drastis. Saya sempat nangis. Meskipun begitu, saya mulai sadar. Ternyata tidak selamanya saya berada di atas. Pasti adakalanya di bawah. Dan saat berada di bawah inilah, saya bisa merasakan posisi rendah yang waktu itu selalu saya remehkan. Dan disinilah saya juga bisa merasakan perjuangan sesungguhnya. Merangkak dari nol untuk mencapai angka sembilan. Saya juga mulai belajar menghargai orang lain karena setiap orang pasti mempunyai potensi masing-masing, belajar menggunakan waktu seefektif mungkin karena waktu adalah pedang, setiap saat ia siap menebas jika lalai dalam menggunakannya, dan tentunya belajar menata hati agar terhindar dari kesombongan.

    (Tahun 2002/2003 Kalau nggak salah. Saat masih Sekolah Dasar)

    Terima Kasih!

  11. Nama: GesthaRD
    Twitter: @AltGST
    link: https://mobile.twitter.com/AltGST/status/643068076641132544?p=v

    Waktu lulus SMA, saya sudah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di universitas dan jurusan favorit saya. Keinginan saya untuk masuk ke univ tersebut amat besar, jadi saya sudah mempersiapkan semuanya demi keberhasilan saya. Saya dan beberapa teman saya mengincar satu univ yang sama. Namun sayangnya, harapan tak sesuai, saya gagal tembus di universitas tersebut, begitu pun teman2 saya. Saya nyaris putus asa dan depresi akut. Ini menyulitkan saya untuk berpikir jernih, meski ortu udah meminta agar lebih baik mencoba pilihan terakhir di sebuah univ. Apa lagi yang membuat saya sulit mengiyakan permintaan ortu adalah karena di univ tsb tidak tersedia jurusan keinginan saya. Saya nyaris mengikuti jejak teman saya, namun ortu tidak setuju. Saya jd makin bingung dgn bagaimana kehidupan saya selanjutnya. Akhirnya, setelah mendapat pencerahan dari sana sini, saya berhasil membuat sebuah keputusan. Saya membatalkan rencana nganggur satu tahun dan mengikuti arahan ortu saya. Dan Alhamdulillah, saya diterima di univ trsb. Saya jadi berpikir mungkin ini memang sudah jalan saya. Memang tidak mudah merelakan dan berada pada apa yang bukan menjadi rencana awal kita sebelumnya. Namun saya akan tetap berusaha menjalaninya sebisa saya, meski pada univ dan jurusan yang berlawanan dengan pilihan awal saya. Saya akan berusaha mengembangkan potensi diri dibidang ini, berusaha mencintai dabn menekuninya. Saya harus yakin bahwa Allah akan mengirimkan yang terbaik. RencanaNya lah yg paling indah.
    Dan alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa menjalani semua ini dengan senyum dan hati yang ikhlas yg pernah saya miliki.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s