Cerpen Kedua “Opor Minang Mama” (dimuat di Majalah Femina no.26/XLVI – 25 Juni-1 Juli 2016)

 

Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen

Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen (dokumen pribadi)

 

Alarm ponsel membangunkanku. Aku meraba-raba ke atas nakas di sisi tempat tidurku. Beberapa kali ku mengerjapkan mata agar jelas melihat layar ponsel. Pukul 04.30. Ikon dismiss kusentuh.

Aku bangkit dan melemaskan otot punggungku. Kepalaku terasa berat. Semalam tidur terlalu larut. Bu Wina, atasanku, memintaku membuat format power point untuk presentasi produk asuransi di sebuah lembaga pendidikan besok. Pengerjaannya membuatku lama berada di depan laptop.

Segera ku menyegarkan diri ke kamar mandi. Aroma dadar telur plus mentega menguar hingga ke kamarku di lantai atas. Mama sangat memanjakanku. Selain menyiapkan sarapan, wanita tangguh itu selalu membekaliku makan siang untuk di kantor. Sampai-sampai teman-teman staf di kantor meledekku karena aku seperti anak TK yang selalu membawa bekal. Namun sesekali aku turut makan siang bersama mereka ke luar kantor.

Kafie, rekan kerja di divisi pemasaran yang sedang dekat denganku, penasaran ingin mencicipi masakan opor ayam bumbu Minang yang kubawa hari ini. Setelah satu suapan besar ke mulutnya, dia tak berkata apapun selain acungan jempol.

Keesokan harinya, Kafie membocorkan pengalamannya pada Bu Wina. Beliau tiba-tiba memesan opor padaku.

“San, Kafie bilang, opor yang kamu bawa enak banget.”

“Biasa saja, Bu.” Aku tersenyum tipis.

“Gimana kalau itu jadi salah satu menu untuk berbuka puasa minggu depan?”

Kantorku biasanya mengadakan buka puasa bersama di minggu pertama bulan Ramadhan. Awalnya aku ragu apakah Mama sanggup memasak sebanyak itu. Ada tigapuluh orang personil di kantorku termasuk para agen marketing. Kalau aku yang memasak, belum tentu seenak buatan Mama.

Mama selalu menerima pesanan masakan apapun dari para tetangga selain berjualan lontong opor Minang di warung setiap hari. Beberapa masakan khas Minang juga tersedia. Sejak memutuskan pensiun dini, Mama menikmati kegiatannya menggeluti bisnis kecil ini. Ruangan bekas garasi mobil, kami sulap menjadi warung makan yang nyaman. Penghasilannya lumayan bisa membantu biaya kuliahku hingga selesai.

***

“Ma, kantorku mau pesan opor ayam untuk buka puasa bersama sabtu nanti.”

“Opor pedas bumbu Minang?” tanya Mama sambil membenahi daster batiknya.

“Iya. Porsinya kira-kira untuk tiga puluh orang.”

“Boleh. Tapi gimana caranya mengantar dua panci besar opor itu nanti ke kantor kamu? Harus diangkut pakai mobil, kan?”

“Mm…minta tolong Bang Azwar aja.” Aku tersenyum mobil van kakakku.

“Ya, mudah-mudahan Abangmu nggak ke mana-mana pas hari ‘H’.”

“Nanti aku telepon Bang Azwar, Ma.”

***

Sebelum beranjak tidur, kuambil ponselku dan langsung menyentuh nama Bang Azwar di phone contact.

“Bang, aku mau minta tolong bawa pesanan opor untuk kantorku, sabtu besok.”

“Abang enggak janji, San. Kadang bos Abang suka mendadak menelepon suruh jemput barang. Nanti Abang kabari lagi.”

Aku menutup koneksi ponsel dan memutar otak. Apa ada alternatif angkutan jika Bang Azwar tak bisa mengantarku. Segala sesuatu harus siap agar di hari ‘H’ tidak kelimpungan.

Aku teringat Kafie. Ah, pasti dia keberatan membawa panci sebesar itu. Kalau kuahnya tumpah, dia bakal bete sama aku. Jazz hitamnya itu sangat terawat. Noda setitik pun jadi masalah.

***

Aura bulan pengampunan telah terasa. Beberapa tetangga kompleks perumahan menggelar meja yang menjual penganan khas Ramadan. Mama pun menambah berbagai macam takjil di warung. Mulai dari puding buah, jelly, dan aneka kolak. Pembeli yang rata-rata remaja biasanya mulai menyemut sambil menanti azan magrib.

Mama lumayan sibuk melayani pembeli di hari pertama puasa. Aku membantunya jika kebetulan pulang cepat dari kantor dan di akhir minggu. Aku mengingatkan Mama bahwa tiga hari lagi opor pesanan kantor harus dibuat. Bu Wina sudah memberikan dananya padaku dua hari lalu.

“Santi, kamu harus bisa memasak. Dulu, Mama diajarkan memasak oleh Nenekmu. Mulai dari membuat kue jajan pasar, sayur bening, sampai masakan bersantan.” Ujar Mama sambil mewadahi kolak candil ke plastik.

“Aku enggak ada waktu, Ma. Pulang kerja udah capek. Hari libur, ya pengin leyeh-leyeh.”

“Kamu itu perempuan. Sesibuk apapun kamu, memasak untuk keluarga itu kewajiban. Suami akan lengket sama kamu kalau kamu pintar masak.”

Kalimat Mama ini menyudutkanku. Aku wanita dua puluh tujuh tahun, belum berkeluarga dan malas memasak. Apa kata dunia jika calon suamiku tahu? Apakah Kafie mau menikahiku kalau ternyata aku nggak bisa memasak? Salah satu kriteria wanita idaman Kafie adalah pintar memasak.

Ingatanku melayang ke beberapa tahun lalu saat Papa masih hidup. Mama selalu menyempatkan memasak masakan lezat untuknya. Sesibuk apapun Mama, selalu wajah ceria yang beliau perlihatkan pada Papa. Apa aku bisa seperti Mama? Ketulusan hati Mama merasuk ke masakannya hingga membuat Papa semakin mencintainya.

***

Mama tiba-tiba mengeluh sesak napas dan pusing sepulang berbelanja dari pasar. Aku membereskan bungkusan yang dibawa Mama. Di dalamnya adalah bahan-bahan untuk membuat opor. Aku menuntun Mama ke kamarnya dan menyuruhnya berbaring.

“Ma, aku nggak jadi pergi kerja. Aku mau temani Mama.” Hatiku mendadak nyeri melihat Mama seperti ini. Aku takut Mama seperti bulan lalu. Tekanan darahnya naik, asmanya kambuh, dan kedua kakinya dingin. Waktu itu, aku mengira Mama akan dipanggil Tuhan.

“Kamu pergi saja, Mama nggak apa-apa. Mungkin terlalu capek, nanti juga baikan. Mama perlu minum obat saja.”

“Aku saja yang masak opor, ya, Ma.” Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk melakukannya. Aku bisa saja membatalkan pesanan pada Bu Wina. Tapi aku tidak mau mengecewakan Bu Wina dan Mama.

“Kamu yakin?” kata Mama sambil berusaha mengatasi rasa sakitnya.

Aku mengangguk lalu membenahi bantal Mama. Beliau menunjukkan resep opor bumbu Minang di laci mejanya. Aku membacanya dengan teliti. Praktiknya pernah kulihat setiap hari.

Setelah memberi obat dan memastikan Mama tertidur, aku melangkah ke dapur. Aku menelepon Bu Wina terlebih dulu dan meminta ijin tidak ke kantor karena harus memasak. Aku berjanji padanya sore nanti membawa opor itu segera.

Dapur mungil ini, tempat aku bercerita pada Mama tentang pacar pertamaku, kegelisahanku sebagai wanita dewasa. Juga tentang Kafie yang terlalu perhatian padaku.

Peralatan memasak yang komplit milik Mama seakan menjadi saksi bisu perjuangan Mama untuk anak gadisnya. Aku masih ingat saat SMA, terpaksa memasak sup ayam karena Mama tak sempat lalu pergi ke kantor. Mama telah menyediakan bahan-bahannya di kulkas dan memberiku instruksi langkah-langkah memasak sup sebelum pergi.

Papa memujiku karena memasak sup dengan kuah yang banyak. Papa tidak berkomentar apapun, mungkin takut merusak suasana hatiku. Saat Mama pulang, beliau mencicipi sup itu. “Kurang garam dan gula sedikit. Kuahnya terlalu banyak,” katanya. Mama tetap memujiku sambil membelai rambutku,“Gadis Mama sudah bisa memasak.” Walau supnya kurang enak, aku cukup bangga karena ini hasil masakan perdanaku.

Aku tak mampu membayangkan bagaimana jika Mama yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Berat rasanya. Ditinggal Papa pun rasanya perih. Pasti aku akan selalu merindukan setiap olahan masakan dari tangan hangat Mama yang lembut. Kali ini, aku akan mencoba memasak opor ayam bumbu Minang untuk Mama dan orang-orang di kantor.

Ya, memasak memang membutuhkan latihan berulang-ulang dan ketulusan hati. Mama bilang, jika kita sedang tidak mood, masakan yang kita buat tak enak rasanya. Beda tangan akan berbeda rasanya. Jika dulu dalam keadaan terdesak aku bisa, mengapa sekarang tidak.

Aku melirik ke arah bawang putih dan bawang merah lalu mengupasnya beberapa siung sesuai resep. Jintan, ketumbar, jahe, daun salam, serai, dan santan, kukeluarkan dari bungkusan. Ayam kampung yang sudah dipotong-potong, kucuci bersih. Aku mencoba mengingat langkah pertama yang pernah Mama lakukan. Ayamnya harus digoreng sebentar. Jangan terlalu matang. Mama bilang, cara ini agar daging ayam tidak benyek saat direbus dengan santan nanti. Terlebih jika menggunakan ayam negeri.

Minyak goreng kupanaskan di wajan besar secukupnya. Kumasukkan satu persatu potongan ayam tadi. Semua bumbu dasarnya kuulek di atas cobek agar lebih baik hasilnya daripada dihancurkan dengan blender. Itu anjuran Mama. Cita rasa masakan akan berbeda.

Bumbu ini seolah memberiku makna bahwa proses memasak mirip dengan proses jatuh bangunnya Mama membesarkanku dan Bang Azwar saat Papa tiada. Setiap bahan dasar yang kusatukan di cobek harus berbaur dengan baik hingga menjadi bumbu opor yang sempurna. Bahan dasar dari ketulusan Mama menjalani tahap kehidupan adalah kesabaran dan kesungguhan yang menyatu hingga menghasilkan pribadi yang tahan banting.

Aku mengangkat ayam lalu menggoreng beberapa potong lainnya hingga semuanya selesai. Minyak bekas ayam tadi kupindahkan dan kusisakannya sedikit untuk menumis bumbu. Aku melangkah mendekati kulkas dan membuka pintunya. Yes! Daun jeruk. Ini rahasia wanginya opor ayam Minang Mama. Walau daun salam juga berfungsi sebagai pewangi masakan, namun Mama selalu menambahkan daun jeruk di setiap masakan bersantan. Hasilnya aroma daun jeruk menggoda hidung.

Kutumis bumbu halus tadi plus daun jeruk. Mama biasanya menambahkan cabai keriting merah giling. Aku membuka tas plastik dan mencari-cari bungkusan cabai merah giling. Ah, ini dia.

Aroma wangi bumbu mulai memenuhi ruangan dapur. Mama pernah bilang, jika sudah terlihat agak pekat tumisan bumbunya, segera masukkan potongan ayam yang sudah digoreng tadi. Jangan sampai bumbunya gosong. Aduk rata supaya bumbu meresap ke dalam daging ayam.

Kutuangkan santan sambil mengaduknya. Peluhku mulai membayang di pelipis karena uang panas dan rasa gugupku. “Ternyata memasak itu butuh kekuatan fisik,” gumamku. Tak heran jika profesi chef lebih didominasi pria.

Aku melirik jam dinding. Pukul 9.15. Syukurlah masih banyak waktu. Keringat kian membanjir. Kubiarkan kuah santan mendidih. Sesekali aku mengaduknya seperti yang biasa Mama lakukan. Sedetik kemudian, aku ingat kapulaga. Aku mengambilnya di toples dan memasukkannya ke dalam panci setelah kumemarkan. Oporku akan bercitarasa lebih tajam dan memikat penciuman orang-orang hingga berselera mencicipinya.

Aku teringat keadaan Mama. Kutengok celah pintu kamarnya. Mama masih terpejam. Aku kembali ke dapur. Tiba-tiba lagu Maroon 5 “Animal” dari ponselku terdengar. Kuraih ponselku di meja dapur. Di layar tertera nama Kafie.

“Mama enggak enak badan, Fie. Jadi aku yang masak opor untuk pesanan kantor.”

“Serius? Wah, aku nggak sabar pengin segera mencicipi. Mau aku jemput enggak?”

Seperti gadis kecil yang mendapatkan kado kejutan, aku sangat senang dengan tawaran Kafie. Aku memintanya menjemputku pukul tiga.

Aku kembali fokus ke wajan opor dan bertanya-tanya berapa lama merebusnya. Biasanya Mama mencuil daging ayam untuk mengecek keempukannya. Kuaduk lagi pelan kuahnya. Aroma bumbu yang berpadu dengan kapulaga meluruhkan air liurku di dinding mulut.

Resah masih berteman denganku. Setengah jam kemudian, kucuil daging ayam dengan ujung susuk. Belum empuk. Kuputar mp3 player ponsel agar sejenak keresahan sirna. Tepat di saat suara Ellie Goulding menyanyikan lirik ‘How long will I love you… as long as star above you and longer if I may’. Opor ayam sebentar lagi matang sempurna.

Taburan bawang goreng di sentuhan akhir akan membuat opor ini sangat cantik, pikirku. Aku mengambil toples bawang goreng di lemari. Seandainya Papa melihat ini, beliaulah yang pertama mencicipi ini.

Tanpa kusadari, Mama sudah berdiri di mulut pintu dapur.

“Karena Mama hari ini tidak berpuasa, silakan mencicipi,”  ujarku sambil memegang lengannya lalu melangkah ke depan wajan.

Dadaku bergemuruh saat bibir Mama menyentuh ujung sendok. Beliau mengecap rasanya.

“Opor ayam bumbu Minang ala Santi, lamak bana[1].”

Genangan kecil menghangat di kelopak mataku.

*****

[1] Lamak bana (Bahasa Minang) : sangat lezat

 

Cerpen ini terinspirasi dari masakan almarhum mama. Ada beberapa hal yang saya kaji dari filosofi hidup melalui masakan opor khas Minang. Kisah tokoh dalam cerpen ini tidak sepenuhnya pengalaman pribadi namun saya mencoba meraciknya seperti kisah yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan seorang wanita.

Sebetulnya kabar cerpen ini akan dimuat sudah saya terima via emali sejak akhir tahun 2015. Email tersebut mengabarkan bahwa cerpen akan dimuat di antrean majalah edisi bulan Februari – Maret 2016. Namun ternyata jawaban email dari saya terselip dan editor mengabari saya lagi bahwa cerpen ini terbit di akhir bulan Juni 2016. Jadi, total masa tunggunya 1 tahun.

Naskah memang akan menemukan jodohnya sendiri. Tepat aura ramadan sangat pas dengan nuansa cerpennya. Semoga saya bisa mengolah ide lain untuk cerpen berikutnya dan tentu saja berjodoh lagi dengan media cetak yang keren, majalah Femina. Terimakasih sudah membaca cerpen saya. Give me your comment, please.😉

4 thoughts on “Cerpen Kedua “Opor Minang Mama” (dimuat di Majalah Femina no.26/XLVI – 25 Juni-1 Juli 2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s