“Diary Yoga #1”

Resolusi utama saya di tahun 2017 ini adalah ingin lebih sehat.

Berawal dari terdeteksinya gejala kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi di akhir tahun 2016. Dokter menyarankan agar STOP mengonsumsi daging, segala yang digoreng, kacang-kacangan, dan mengurangi makanan yang gurih. Saya hanya boleh memakan ikan (bukan sea food), sayuran, dan buah-buahan disertai dengan olahraga rutin.

Awalnya saya merasa tersiksa karena selama ini sudah terbiasa dengan pola makan ‘terserah apa mau saya’. Mengemil keripik dan teman-temannya juga masih dilakukan apalagi minuman kopi instan dan minuman manis lainnya. Namun saya mencoba ‘berunding’ dengan tubuh saya. Sampai saya pada keputusan ingin menjadi Vegetarian saja agar aman.

Setelah browsing mencari tahu tentang bagaimana menjadi Vegetarian, hati saya bertambah mantap. Selain karena harus memperhatikan pola makan rendah lemak, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah kebiasaan makan yang buruk menjadi pola makan yang lebih sehat. Akhirnya saya membeli buku tentang Vegetarian agar lebih paham tentang kebutuhan tubuh saya. Setelah membaca dengan saksama, saya termasuk tipe Vegetarian Ovo (tidak mengonsumsi daging dan produk olahan hewani termasuk susu, keju, tetapi masih mengonsumsi putih telur sesekali).

Buku "I am A Happy Vegetarian" karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House.

Buku “I am A Happy Vegetarian” karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House. (foto : dokumen pribadi)

Dua minggu pertama, saya sangat memperhatikan asupan makanan. Meminimalsir minyak yang terkandung dalam masakan, menghentikan penggunaan bumbu penyedap (MSG), lebih mengontrol keinginan ngemil makanan ringan yang kurang sehat dan memilih lebih banyak menyediakan buah-buahan untuk stok camilan. Sebulan saya konsisten dengan pola makan ala vegetarian tanpa mengonsumsi telur dan susu. Gejala-gejala asam urat seperti kepala pusing, pegal di area tubuh sebelah kiri terutama pundak, pergelangan tangan dan telapak kaki mulai berkurang. Terkadang kambuh jika saya salah makan. Saya juga berusaha mendetoks tubuh dengan berpuasa seminggu dua kali. Praktis setelah dua bulan berdiet, berat badan susut hingga 6 kg (dari 67kg – 61kg).

Tubuh pun mulai terasa ringan, keringat tidak terlalu membanjir kecuali saat berolahraga saja. Pola diet ini saya bantu juga dengan latihan fisik (berjalan kaki, lari, dan Yoga). Jadi dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali berolahraga dengan intensitas bervariasi tergantung kesanggupan tubuh. Setelah rutin mengikuti jadwal Yoga seminggu sekali, saya merasa tubuh semakin fit dan otot-otot tubuh lebih fleksibel. Bonusnya kemudian berat badan turun lagi hingga di angka 58kg.

 

Saya juga mulai memvariasikan menu makan sehari-hari. Saat kangen dengan makanan yang digoreng, saya lebih memilih minyak zaitun atau minyak canola untuk menumis atau menggoreng. Tentu harganya lebih mahal dibanding minyak sawit biasa. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko penyakit saya kambuh gara-gara urusan minyak. Demi kesehatan saya pilih yang lebih aman.

Perlahan tubuh menyesuaikan dirinya sendiri dengan ritme yang saya lakukan. Saat memakan sesuatu yang mengandung pemanis berlebih, lidah rasanya menjadi kurang ramah, atau saat tidak olahraga rasanya lemas beraktivitas di rumah. Sejak saya mengikuti kelas Yoga, manfaatnya mulai terasa setelah empat kali pertemuan. Setiap orang tentu akan mengalami reaksi yang berbeda setelah ber-Yoga. Konsultasi pada guru Yoga sangat diperlukan sebelum, selama melakukan, dan setelah latihan karena gerakan Yoga pada dasarnya sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang.

Saya berencana tiga bulan pertama ini (Januari-Maret) akan konsisten dengan 4 kali pertemuan per bulan. Mungkin nanti intensitasnya akan ditingkatkan menjadi 6-8 kali pertemuan sebulan. Tujuan awal ber-Yoga hanya untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi semakin hari semakin termotivasi untuk jauh lebih baik dari sekadar bugar. Yoga memberi saya ruang untuk lebih sayang pada tubuh, membantu untuk lebih fokus, relaksasi, mengusir kejenuhan dan belajar bersabar juga menyeimbangkan jiwa raga dalam hubungan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai Yoga akan saya bagikan di tulisan selanjutnya, “Diary Yoga #2”.

 

Advertisements

4 thoughts on ““Diary Yoga #1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s