“Angkot Pink”

"Angkot Pink" (jurusan Gede Bage - Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]

“Angkot Pink” (jurusan Gede Bage – Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]

Dita melirik arloji bertali karet jingga.  Pukul 06.05 namun angkot yang membawanya ke arah Dago, Bandung, belum juga muncul.

“Haduh, bakal kesiangan nih, gue.”  Gerutu Dita.

“Kok belum ada juga ya, angkotnya.” Ujar Dani sambil melirik kea rah belokan jalan.

“Gimana dong, Dan. Elu naik angkot ijo aja deh, duluan. Ntar kesiangan gara-gara bareng gue.”

“Udah nggak apa-apa, sebentar lagi juga datang.” Dani menenangkan Dita tapi mimic wajahnya sendiri seolah tak tenang.

Dani berbeda sekolah dengan Dita, namun terkadang mereka janjian bareng supaya bisa bertemu. Di akhir minggu, Dani sudah memiliki jadwal latihan sepak bola. Hari lainnya sibuk di OSIS dan ekskul Angklung.

Lima menit kemudian, angkot pink muncul. Dita dan Dani beruntung mendapatkan tempat duduk. Mereka duduk bersebelahan. Setelah tiga ratus meter angkot melaju, ada calon penumpang melambaikan  tangan di pinggir jalan. Angkot berhenti, lalu ibu dan seorang anak laki-laki 5 tahun naik. Tempat duduk yang terisisa hanya tinggal di dekat pintu. Ibu itu terlihat kerepotan dengan barang bawaannya.

Dani spontan membantu memindahkan barang itu mengajak anak kecil tadi duduk di pangkuannya.

“Oh, Dani ternyata kamu penyayang anak kecil,” gumam Dita sambil memperhatikan Dani memeluk anak itu dengan hangat.

Anak itu tak berkomentar apapun selain tatapan lugu pada ibunya lalu tersungging senyum yang memamerkan gigi ompongnya.

Tiba di terminal Cicaheum.

“Dit, gue turun di sini, ya? Ganti angkot yang itu. Nanti nelpon aja ya, kalua mau bareng lagi. Oke?”

“Oh, oke. Carefull.”

            Dani berlari melesat menuju kea rah angkot jurusan Cicaheum-Kebon Kelapa.

 

Posisi duduk Dita  mulai bergeser sedikit demi sedikit ke pojok dekat jendela angkot dan kedua matanya mulai redup. Dug! Sesekali kepalanya terantuk kaca saat angkot mengerem.

Tiba di sekolah, gerbang sudah ditutup.

Pak Satpam mempersilakan para murid berseragam putih abu yang telat untuk segera masuk ke ruang guru piket.

“Ah, sial! Beneran diskors, nih. Apa kabar Dani?”

_________________ (bersambung ke ‘Musik dan Dita’)

 

Advertisements

5 thoughts on ““Angkot Pink”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s